SETAN ITU MAHKLUK YANG NYATA ???
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَاۤ فَّةً ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanudkhuluu fis-silmi kaaaffataw wa laa tattabi'uu khuthuwaatisy-syaithoon, innahuu lakum 'aduwwum mubiin
Hai
orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya,
dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu
musuh yang nyata bagimu.
[Al-Baqarah
(2) ayat 208]
Para Pembaca
yang budiman …
Ketika mendengar kata “syaitan” (setan), maka anda akan langsung
berpikir tentang makhluk halus yang menyeramkan – dengan gambaran fisik yang
menakutkan, seperti yang sering divisualisasikan dalam sinetron atau film
horor. Pemahaman ini diperkuat dengan paham nenek moyang yang ada ditengah
masyarakat. Kuburan, Rumah Angker, Pohon Besar, dan tempat-tempat angker
lainnya dipandang sebagai “sarang” setan. Demikian sedikit gambaran tentang
setan yang dipahami dalam kesadaran masyarakat dulu sampai dengan sekarang.
Renungan kali ini akan mengkritisi tentang Trend “setan” yang ada
didalam Al-Quran yang begitu banyak. Setidaknya kata “setan” terulang sebanyak
88 kali dalam Al-Quran, baik dalam bentuk tunggal maupun jamak. Apakah setan
yang dimaksud didalam Al-Quran sama dengan setan yang dipahami dalam budaya
masyarakat dan doktrin agama ???
Satu hal yang
paling prinsip dalam pemahaman tersebut, bahwa setan itu adalah makhluk yang
berbeda dengan manusia yang kasar. Setan adalah makhluk gaib yang tak nampak
seperti halnya jin dan malaikat. Lalu seperti apa penjelasan Al-Quran
sebagai Kitab Petunjuk tentang setan tersebut ???
Satu hal yang
harus digaris bawahi kembali, bahwa Al-Quran adalah Kitab Petunjuk yang
ditujukan untuk manusia, bukan untuk makhluk yang lain di luar manusia.
Selain itu, semua petunjuk Al-Quran adalah untuk kepentingan hidup dan
kehidupan manusia dimuka bumi, bukan untuk kehidupan setelah mati. Kehidupan
manusia setelah mati sangat ditentukan oleh sikap hidupnya selama ia berada di
muka bumi. Ketika Allah banyak memperingatkan manusia tentang setan, maka hal
tersebut juga untuk kepentingan manusia selam hidupnya di muka bumi, khususnya
bagi orang-orang beriman.
Apakah betul
setan itu makhluk yang berbeda dengan manusia dan tidak dapat dilihat dengan
mata fisik?
Mari kita
cerdasi beberapa firman Allah berikut ini :
a.
Al-Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 168-170 :
يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَ رْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
اِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِا لسُّوْٓءِ وَا لْفَحْشَآءِ وَاَ نْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
وَاِ ذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَا لُوْا بَلْ نَـتَّبِعُ مَاۤ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَآءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَا نَ اٰبَآ ؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْئًـا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ
168.Hai sekalian manusia,
makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah
kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah
musuh yang nyata bagimu.
169.Sesungguhnya syaitan itu
hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa
yang tidak kamu ketahui.
170.Dan apabila dikatakan
kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak),
tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek
moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang
mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?”
Beberapa Petunjuk yang dapat diambil dari
penegasan ayat diatas adalah :
1). Perintah kepada manusia untuk
makan makanan yang halal dan bergizi. Ada banyak makanan dibumi ini yang halal
namun tidak baik atau tidak bergizi, sehingga tidak baik bagi tubuh manusia.
Untuk itu, disamping makanan itu harus halal (diperoleh dengan cara yang tidak
melanggar hukum), juga harus sehat dan bergizi bagi tubuh manusia. Secara
spiritual, manusia juga mencari makanan qalbu
dari sumber yang halal, bukan dari sumber yang haram atau najis. Isme,
ajaran atau ideologi yang musyrik adalah “makanan” yang najis bagi ruhani
manusia, khususnya orang-orang beriman. Makanan ruhani yang harus dikonsumsi
manusia adalah firman Allah (wahyu). Istilah lain yang biasa digunakan dalam
Al-Quran tentang makanan ruhani ini adalah “rezeki dari langit”.
2). Allah melarang mengikuti
langkah-langkah setan yang merupakan musuh yang nyata bagi manusia. Jika yang
dimaksud setan adalah makhluk halus (gaib), bagaimana mungkin kita dapat
mengikuti atau tidak mengikuti langkah-langkahnya – yang tidak terlihat secara
fisik. Satu-satunya makhluk yang dapat diikuti oleh manusia adalah manusia
lainnya. Bukankah setan itu musuh yang nyata? Artinya, dapat dilihat bentuknya
dan dirasakan akibat perbuatannya. Bagaimana mungkin manusia yang kasar dapat
bermusuhan dengan makhluk halus??? Jika demikian, manusia tidak akan pernah
menang. Sehingga, yang dimaksud setan adalah manusia juga, yakni manusia yang
memiliki pemikiran atau kesadaran jahat yang najis (musyrik). Dan yang dimaksud
dengan “langkah-langkah” setan adalah jalan hidup atau program hidup manusia
setan yang bertentangan dengan jalan Allah dan program-program wahyu-Nya. Hal
inilah yang tidak boleh diikuti atau dituruti.
3). Hal ini dipertegas dengan ayat
169, dimana setan itu selalu memerintah atau menyuruh manusia berbuat jahat dan
keji. Jadi, Setan itu hanyalah penamaan
bagi mereka yang selalu memerintah atau menyuruh manusia lainnya berbuat jahat
dan keji, karena qalbu-nya tidak
dipenuhi oleh wahyu Allah, melainkan oleh keinginan (syahwat) dirinya.
Segala sesuatu yang diperbuat oleh manusia adalah hasil perintah dari apa yang
ada dalam kesadaran akal pikirannya. Ketika pikiran manusia dipenuhi oleh ruh
jahat (setan), maka ia akan selalu berbuat jahat dan keji. Sebaliknya, ketika
pikiran manusia dipenuhi oleh Ruh Qudus (Wahyu Allah), maka ia akan selalu
berbuat benar dan baik.
Jika Anda pernah mendengar bahwa Nabi Isa
as, mampu mengusir setan dari diri seseorang, maka yang dimaksud bukan setan
yang menakutkan dan menyeramkan seperti yang ada dalam doktrin nenek moyang,
tetapi Nabi Isa mampu mengusir ruh jahat (kesadaran musyrik) dalam diri
seseorang dengan cara mengajarkan ruh qudus (firman Allah). Ketika kesadaran
jahat atau syirik itu menjadi ruh bagi seseorang, maka ia dapat mengajak atau
menggoda atau memerintah orang lain melakukan kejahatan atau kebatilan.
Orang-orang yang belum memiliki “ruh Allah” itulah yang menjadi obyek dakwah
para Nabi dan Rasul-Nya. Namun demikian, mayoritas mereka yang didakwahkan
firman-firman Allah selalu memilih untuk tetap pada kesadaran dan keyakinan
yang telah diajarkan oleh nenek moyang mereka. Mereka lebih senang mengikuti
tradisi dan ideologi bangsanya, meskipun tidak memiliki dasar ilmu yang sah.
Dan mereka itu tentu saja manusia, bukan makhluk halus yang menolak dakwah para
Nabi dan Rasul Allah. Inilah yang digambarkan oleh Allah pada ayat 170 diatas.
Sebuah jalan hidup atau keyakinan yang harus ditinggalkan dan jangan diikuti.
b.
Al-Quran surat Al-Baqarah (2) ayat 208 :
يا أيها الذين آمنوا ادخلوا في السلم كآفة ولا
تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين
208.Hai orang-orang yang beriman,
masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut
langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
Bila ayat sebelumnya diperuntukkan kepada
manusia pada umumnya, maka ayat ini khusus diperuntukkan bagi mereka yang telah
beriman. Perintahnya ada dua hal :
1). Perintah untuk menjalankan Din Al-Islam secara menyeluruh, tidak parsial. Artinya, orang-orang yang beriman harus dapat menjalankan sistem hukum Allah (Din Al-Islam) dalam segala lini kehidupan manusia, bukan sebatas urusan keyakinan dan ritual. Ayat ini juga meluruskan paham agamis, bahwa seseorang terlebih dahulu menjadi muslim (masuk islam) kemudian menjadi mu’min (orang beriman). Ayat ini justru mempertegas bahwa untuk mejalani Din Al-Islam terlebih dahulu nharus menjadi mu’min. Iman dahulu kemudian Islam. Tidak akan ada ummat Islam tanpa ada orang-orang beriman. Hal ini bisa dipahami karena di dalam satu kepemimpinan atau kekuasaan Allah, orang-orang beriman adalah mereka yang bertugas menjaga dan menegakkan Din Al-Islam yang dipatuhi oleh orang-orang muslim dan kafir dzimmy.
2). Perintah untuk tidak mengikuti “langkah-langkah setan” yang menjadi musuh yang nyata bagi orang-orang beriman. Tentu saja yang menjadi musuh orang-orang beriman adalah orang-orang kafir-musyrik, baik para pemimpinnya maupun masyarakat bangsa yang dipimpinnya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kesadaran musyrik atau ideologi nasionalis-pluralis yang menjadi warisan ideologi nenek moyang mereka.
1). Perintah untuk menjalankan Din Al-Islam secara menyeluruh, tidak parsial. Artinya, orang-orang yang beriman harus dapat menjalankan sistem hukum Allah (Din Al-Islam) dalam segala lini kehidupan manusia, bukan sebatas urusan keyakinan dan ritual. Ayat ini juga meluruskan paham agamis, bahwa seseorang terlebih dahulu menjadi muslim (masuk islam) kemudian menjadi mu’min (orang beriman). Ayat ini justru mempertegas bahwa untuk mejalani Din Al-Islam terlebih dahulu nharus menjadi mu’min. Iman dahulu kemudian Islam. Tidak akan ada ummat Islam tanpa ada orang-orang beriman. Hal ini bisa dipahami karena di dalam satu kepemimpinan atau kekuasaan Allah, orang-orang beriman adalah mereka yang bertugas menjaga dan menegakkan Din Al-Islam yang dipatuhi oleh orang-orang muslim dan kafir dzimmy.
2). Perintah untuk tidak mengikuti “langkah-langkah setan” yang menjadi musuh yang nyata bagi orang-orang beriman. Tentu saja yang menjadi musuh orang-orang beriman adalah orang-orang kafir-musyrik, baik para pemimpinnya maupun masyarakat bangsa yang dipimpinnya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kesadaran musyrik atau ideologi nasionalis-pluralis yang menjadi warisan ideologi nenek moyang mereka.
c.
Al-Quran surat Al-An’am (6) ayat 112 :
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيٰطِيْنَ الْاِ نْسِ وَا لْجِنِّ يُوْحِيْ بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا ۗ وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوْهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُوْنَ
112.Dan demikianlah Kami
jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis)
manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian
yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika
Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah
mereka dan apa yang mereka ada-adakan.
Ayat ini menguatkan penegasan ayat
sebelumnya, bahwa setan itu adalah musuh bagi orang-orang beriman dan tentu
saja menjadi musuh para Nabi dan Rasul Allah juga. Bahkan ayat ini semakin
memperjelas, bahwa setan yang menjadi musuh para Nabi itu adalah dari kelompok
manusia (masyarakat biasa) dan jin (para pemimpin). Mereka inilah yang selalu
menipu manusia lainnya untuk mengikuti “langkah-langkah” atau “program-program”
dengan iming-iming atau mimpi-mimpi indah yang bersifat meteriil atau duniawi
semata. Sesuatu yang harus ditinggalkan oleh orang-orang beriman.
Secara faktual, yang menjadi
musuh-musuh para Nabi bukanlah makhluk halus seperti hantu, kuntilanak, atau
genderuwo, tetapi para pemimpin atau penguasa kafir-musyrik beserta masyarakat
bangsanya. Yang menjadi musuh para Nabi dalam peperangan bukanlah makhluk
halus, tetapi para jin (pemimpin; penguasa) dan pasukan pengikutnya. Musuh Nabi
Adam adalah Iblis dan pengikutnya. Musuh Nabi Nuh adalah Raja Kanaan dan
pengikutnya. Musuh Nabi Ibrahim adalah Raja Namrud dan pengikutnya. Musuh Nabi
Musa adalah Raja Fir’aun beserta masyarakat bangsanya. Musuh Nabi Isa adalah
Raja Herodes dan Pilatus beserta
masyarakat bangsanya, dan Musuh Nabi Muhammad adalah Abu Jahal beserta
masyarakat bangsa Arab. Tidak ada sejarahnya para Nabi berdakwah kepada makhluk
halus (gaib) ataupun berperang melawan mereka. Misalnya, penegasan Allah bahwa iblis
itu musuh bagi Adam (sebagai Khalifah) dan pasangannya (ummatnya) dalam surat Thaha (20) ayat 116-117:
116.Dan (ingatlah) ketika
Kami berkata kepada malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka
mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang.
117.Maka kami berkata:
"Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu,
maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang
menyebabkan kamu menjadi celaka.
d.
Al-Quran surat Al-A’raf (7) ayat 27 :
27.Hai anak Adam, janganlah
sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan
kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk
memperlihatkan kepada keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia dan
pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa
melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu
pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.
Yang menjadi penegasan ulang dari ayat
diatas adalah kalimat penutup dari ayat ini, ”Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin
bagi orang-orang yang tidak beriman”. Iblis, Raja Kanaan, Raja Namrud,
Raja Fir’aun (Ramses), Raja Herodes, dan Abu Jahal adalah pemimpin dari mereka
yang menolak dan tidak mengimani misi risalah Allah yang dibawa oleh para Nabi
dan Rasul-Nya. Merekalah yang memusuhi, mengintai, dan memerangi para Nabi dan
Rasul-Nya, beserta para pengikutnya bukan makhluk gaib yang tidak bisa dilihat
wujudnya. Tegasnya, setan itu adalah setiap manusia yang menolak dan menjadi
musuh dari misi risalah Allah.
Selain menggunakan kata
“setan”, Allah juga menggunakan kata “thaghut” dalam Al-Quran yang sering
diartikan dengan “setan”. Setidaknya kata “thaghut” ini terulang delapan kali
di dalam Al-Quran. Al-Quran seringkali menempatkan “thaghut” sebagai lawan dari
Allah, baik sebagai pelindung ataupun yang ditaati oleh manusia. Sehingga
“thaghut” dapat berbentuk “manusia”, “penguasa” atau “ideologi” yang diikuti,
ditaati, dan yang dijadikan “berhala” oleh manusia. Mari renungkan firman Allah
dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 256-257
di bawah ini :
256.Tidak ada paksaan untuk
(memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada
jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Anda memilih
beriman kepada Allah, maka Anda harus mengkafiri (menolak) thaghut (pemimpin;
penguasa; ideologi yang musyrik).
257.Allah Pelindung
orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran)
kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah
syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran).
Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
Pada ayat 257 dijelaskan, bahwa “thaghut”
adalah pemimpin atau pelindung dari
orang-orang kafir seperti Fir’aun, Herodes, dan Abu Jahal. Mereka itulah yang
disebut thaghut atau Setan, manusia yang kasar bukan makhluk
halus. Ayat ini senada dengan firman Allah dalan surat An-Nahl (16) ayat 36 :
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul
pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan
jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi
petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti
kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah
bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
Penegasan “thaghut” itu sama dengan “syaitan” (setan) juga dapat dilihat dalam surat An-Nisa (4) ayat 60 dan 76 di bawah ini :
60.Apakah kamu tidak
memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang
diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak
berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut
itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang
sejauh-jauhnya.
76.Orang-orang yang beriman
berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan
thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu
daya syaitan itu adalah lemah.
Pembaca
yang budiman …
Dari
beberapa renungan ayat diatas, semakin menegaskan bahwa sesungguhnya apa yang
disebut syaitan (thaghut) oleh Allah
dalam Al-Quran sangat berbeda dengan doktrin atau pemahaman budaya dan agama
yang ada di tengah masyarakat, yakni makhluk halus (gaib) yang menakutkan.
Kesimpulannya, setan yang ditegaskan dalam Al-Quran adalah manusia yang
memiliki kesadaran ruh atau ideologi yang syirik sehingga selalu memerintah
dirinya dan manusia lainnya untuk berbuat jahat dan keji. Manusia Setan adalah
manusia yang dikuasai Nafs-nya. Karena sifat dasar nafs ammarah selalu memerintahkan hal-hal yang buruk. Nafs inilah yang sejatinya ”setan” dalam
diri setiap insan. Nafs-lah yang
menggerakkan manusia untuk berbuat jahat atau berbuat baik, tergantung pada ruh apa yang bersemayam didalam nafs tersebut, ruh jahat atau ruh suci
(ruh qudus; firman Allah).
Karakter
dasar dari nafs selalu mengarahkan
manusia pada kejahatan dan keburukan, sehingga nafs selalu lebih dominan dibanding akal pikiran manusia. Ketika
manusia sudah dikuasai nafs-nya, maka
akal sehat manusia selalu terkalahkan. Satu-satunya yang dapat mengendalikan nafs (setan) tersebut adalah rahmat
Allah, yakni ruh qudus (wahyu).
Ketika nafs manusia diberi ruh qudus (ruh suci), maka keinginan
jahat dan buruk seseorang akan terkendali. Nafs
Ammarah akan berubah menjadi Nafs
Muthmainnah. Silahkan perhatikan firman Allah dalam surat Yusuf (12) ayat 53 berikut ini:
وما أبرئ نفسي إن النفس لأمارة بالسوء
إلا ما رحم ربي إن ربي غفور رحيم
53.Dan aku tidak membebaskan
diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada
kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Perhatikan pula penegasan-Nya dalam surat Al-Maidah (5) ayat 90:
يا أيها الذين آمنوا إنما الخمر والميسر والأنصاب والأزلام رجس من عمل الشيطان فاجتنبوه لعلكم تفلحون
90.Hai orang-orang yang
beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala,
mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan.
Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.
Tidak
ada faktanya setan (makhluk halus) minum khamar
dan berjudi. Semua itu adalah perbuatan manusia yang telah dikuasai oleh ruh jahat (setan) dalam dirinya. Inilah
wujud nafsu ammarah (setan) yang
menguasai diri manusia. Hanya ruh qudus
yang dapat mengubah karakter setan pada diri manusia. Caranya, tinggalkan
dahulu segala jenis kemusyrikan yang ada dan berjanji setia (iman dan taat)
hanya kepada-Nya, kemudian mulai memasukkan ruh
qudus (wahyu) secara tartil
(perlahan-lahan) dalam kesadaran qalbu.
Niscaya ruh qudus (wahyu) tersebut
akan menjadi obat pembersih dan penyembuh penyakit-penyakit syirik (karakter
jahat) yang ada dalam diri manusia.
Anda
pun dapat mengubahnya, sehingga semua karakter jahat dalam diri Anda secara
perlahan akan berubah menjadi karakter terpuji seperti karakter Sang Pencipta.”Takhalqu bi akhlaqi Allah; Berakhlaklah kamu seperti akhlak (karakter)
Allah”. Silahkan mencoba!
Keluarga
bisa menjadi hiasan terindah yang anda miliki,
Namun
jika salah jalan, maka mereka dapat berbalik
menjadi
petaka dan batu sandung dalam hidup Anda.
Hiasan
terindah yang Allah beri untuk manusia
Bukanlah
hal materiil, namun Ruhul Qudus
Yang
menjadi hiasan qalbu setiap manusia beriman.
Untuk
itu, bekali dan hiasilah keluarga Anda dengan Ruhul Qudus,
sehingga keluarga
Anda menjadi hiasan terindah dari Sang Pencipta
“RUMAHKU
ADALAH SURGAKU”

Posting Komentar untuk "SETAN ITU MAHKLUK YANG NYATA ???"
Terima kasih sudah berkunjung di blog sederhana ini, cara bicara menunjukkan kepribadian, berkomentarlah dengan baik dan sopan…